Open Source (Sumber Terbuka) adalah sebuah kisah sukses yang menghiasi permulaan abad ini. Tentunya pada awal 2000an, sekira 11 tahun yang lalu banyak orang/pihak yang menganggap remeh tentang keberadaannya. Bahwa filosofi Sumber Terbuka pasti akan gagal dan tidak diminati.
Ternyata dugaan mereka salah, sampai saat ini filosofi Sumber Terbuka sudah berhasil menarik perhatian banyak pihak. Termasuk mereka yang dulu sempat meremehkannya.
Banyak yang telah sukses, baik itu Perorangan - Organisasi - ataupun Badan Usaha karena mereka menggunakan filosofi Bebas Terbuka. Berikut beberapa contohnya:

  • WikiPedia
  • Situs Informatif yang bisa di akses secara gratis, berisi ensiklopedi yang disusun secara teratur dengan metode kolaborasi, dan sudah diterjemahkan ke hampir seluruh bahasa. WikiPedia juga menjadi acuan bagi banyak orang.

  • WordPress
  • Salah satu teknologi yang mempermudah pengguna awam dalam bidang Ilmu Komputer untuk dapat membuat artikel dan menampilkannya ke Internet. Saat ini WordPress sudah digunakan juga oleh Situs-Situs besar yang beredar di belantara Internet, jadi tidak lagi hanya digunakan oleh pemula seperti saya ini. ;)

  • Ubuntu
  • Sampai saat ini masih berada di posisi puncak, menurut survey secara umum. Dirilis tahun 2004, dan menjadi Sistem Operasi Bebas Terbuka yang paling banyak digunakan.

  • MySql
  • Tentunya kita mengenal istilah LAMP, sebuah kombinasi wajib bagi para pengembang dan pengguna Sumber Terbuka. Linux - Apache - MySql - PHP. Hampir seluruh server dari situs-situs besar menggunakan MySql, beberapa contohnya adalah WikiPedia, Facebook, dan juga situs yang sedang Anda kunjungi saat ini. ;)

  • Android
  • Ternyata Sistem Operasi Android sudah bisa diterima dengan baik oleh seluruh pengguna Perangkat Seluler, hal ini disebabkan oleh Kemudahan dalam penggunaan, perawatan, dan fasilitas lainnya.

  • Orang Sukses dan Beken
  • Wah, maaf untuk bagian ini saya tak sanggup membuat ulasannya, karena sangat banyak orang yang sukses ketika telah benar dan tepat dalam memanfaatkan teknologi Terbuka, serta menerapkan Filosofi Bebas. ;)


Sumber :
Kompasiana

Sumbangan Dunia Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan DipamerkanREPUBLIKA.CO.ID, DUBAI--Sumbangan dunia Islam terhadap ilmu pengetahuan dipamerkan kepada publik Qatar sejak Kamis lalu. Dalam pameran itu, pengunjung bisa melihat ide-ide penemuan yang dilahirkan dari dunia arab pada abad ke-8 hingga 15.

Pameran yang bertajuk "Masa Kejayaan Ilmu Pengetahuan Dunia Islam" ini merupakan hasil kerjasama antara Kedutaan Prancis dan Institute of Arab World, Paris. Tercatat  40 galeri dan museum di seluruh dunia ikut serta dalam pameran tersebut.

Seperti dikutip Alarabiya.net, Jum'at (18/3), kurator pameran, Prof. Ahmad Djebbar, matematikawan asal Perancis dan peneliti sejarah ilmiah, mengatakan masyarakat yang mengunjungi pameran akan memperoleh informasi secara detil tentang sumbangsih ilmuwan Islam melalui beragam medium, seperti audio visual berikut dengan peninggalan-peninggalan yang tersisa seperti manuskrip dan artefak.

Duta Besar Prancis di Qatar, Gilles Bonnaud, mengatakan Dunia Arab telah bertahun-tahun memainkan peran kunci dalam mempromosikan budaya, bahasa, dan sejarah Arab. "Kawasan ini juga memancarkan peradaban yang kaya dan beragam serta membangun satu bagian yang menghubungan antara budaya dan masyarakat," komentar dia.

Dalam pameran tersebut ditampilkan berbagai teknik dan alat yang digunakan dalam astronomi, lingkungan, matematika, serta hidrolika yang melibatkan kemajuan dalam pengelolaan air dengan cara merancang arsitektur dan rekayasa. Pameran juga mencakup penemuan teknologi kedokteran oleh Ibnu Sina yang masih digunakan hingga saat ini. Pameran berlangsung hingga 30 April mendatang.


Sumber:

http://www.republika.co.id/






Melatih
disiplin pada anak-anak ternyata tidak mudah. Untuk bangun pagi,
membereskan tempat tidur, lalu mandi, makan dan siap berangkat sekolah
saja, kadang-kadang saya musti ngomel untuk mengingatkan apa yang harus
mereka kerjakan. Padahal itu rutinitas setiap hari, juga setiap pulang
sekolah harus menaruh sepatu di rak sepatu atau tas di tempat yang
seharusnya atau hal-hal yang lain.


Mendidik anak-anak untuk mampu berdisiplin menjadi kepentingan kita
bersama. Namun pada anak-anak, tanggung jawab itu masih perlu
ditanamkan dan dilatih. Bahkan kenakalan dan perilaku menyimpang yang
dilakukan anak pada dasarnya merupakan sarana belajar. Dengan
kemampuannya untuk menganalisis situasi, lewat kenakalan ia
bereksperimen sampai di mana batas perilaku yang oke.


Karena kenakalan anak biasanya dapat diprediksi, dapatlah disusun
semacam "undang-undang kedisiplinan". Tapi sebelumnya, empat faktor
mesti dipertimbangkan.


  1. Tingkat perkembangan anak. Anak kecil lebih membutuhkan supervisi
    langsung daripada yang besar. Malah yang masih sangat kecil butuh limit
    dan peringatan yang amat spesifik.
  2. Temperamen anak.
  3. Suasana hati anak.
  4. Kapasitas orang tua dalam menghadapi stres, karena ini akan mempengaruhi kemampuan dalam berkomunikasi dengan anak.

Kemudian susun "undang-undang"-nya"


  1. Menentukan aturan.
  2. Menentukan batas kapan aturan dilanggar. Batas ini harus dijelaskan
    dengan kongkret, terutama untuk anak balita. "Jangan bakal", "Tunggu
    sebentar lagi" masih kurang kongkret.
  3. Memberi peringatan. Jangan memberi ancaman yang tidak dapat
    ditepati. Peringatan cukup diberikan satu kali, agar konsisten.
    Langsung mengambil tindakan bila si anak membandel.
  4. Bertindaklah akurat, sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.
  5. Kontrol intonasi respons Anda. Intonasi suara, volume suara,
    kecepatan bisa serta bahasa tubuh dan ekspresi waja juga dapat
    dijadikan medium untuk berkomunikasi. Pada dasarnya anak selalu mencari
    perhatian dan kehangatan, dan tidak suka pada yang dingin dan
    membosankan. Maka ekspresi yang dingin dapat dipakai untuk menunjukkan
    respons kita tanpa memberikan perhatian seperti yang mereka harapkan.
  6. Memberlakukan konsekuensi. Ciptakan kondisi bahwa kalau mereka melanggar aturan, konsekuensinya bakal tidak enak.
  7. Memperbaiki kesalahan. Setelah hukuman berlalu, masalah dibereskan.
    Bisa dengan minta maaf, atau mengerjakan hal yang tadi tidak mau ia
    kerjakan.

Disiplin tak bisa lepas dari ganjaran dan hukuman. Bentuk ganjaran
bisa berupa perhatian dari orang tua, karena bagi anak itulah yang
selalu didambakan. Dorongan positif dalam memberi ganjaran baru
benar-benar efektif, jika ganjaran yang diberikan berhasil
membangkitkan motivasi anak untuk mengubah perilakunya. Dengan
demikian, keberhasilan ganjaran tidak ditentukan oleh rupiah atau
kuantitas barang, tetapi pada perubahan perilaku anak. Dengan
sendirinya pilihan bentuk ganjaran itu amat krusial.


Berikut ini resep memberikan dorongan positif,


  1. Pilih umpan yang menuruti selera anak, bukan Anda.
  2. Setelah memberikan umpan, tunjukkan bahwa bagi Anda masalah ini tidak penting. Yang butuh dia.
  3. Hadiah setara dengan tugas yang diberikan.
  4. Tingkat kesulitan tugas sesuai dengan kemampuan anak.
  5. Hadiah di awal program latihan ini penting sekali untuk memotivasi anak.
  6. Buat dia berjuang. Kalau satu tingkat prestasi sudah dicapai, pasang target yang lebih tinggi.
  7. Kalau ia berhasil pada tingkat tertentu, berikan "bonus", yang bisa diberikan dengan berbagai variasi.
  8. Anda dan anak harus sama-sama bermain jujur dan konsisten, sesuai kesepakatan.
Sumber :
http://intisari-online.com/



Berkenalan
itu ternyata tidak gampang. Salah strategi, justru bisa runyam
akibatnya. Berikut jurus berkenalan secara aman dan menyenangkan. Ada
empat langkah yang disarankan Dr. Lillian Glass dalam bukunya Confident Conversation sebelum kita berkenalan. Langkah-langkah itu:


  • Tersenyumlah. Jika Anda kurang suka pada cara
    Anda tersenyum, lihatlah ke cermin, dan carilah bentuk senyum yang
    paling pas. Lemaskan otot-otot wajah yang membentuk senyum itu.
    Ekspresikan ketulusan hati lewat senyuman.
  • Kontak wajah. Arahkan seluruh wajah, bukan hanya
    mata Anda. Selain matanya, tataplah juga setiap bagian wajah (kening,
    rambut, hidung, dagu, dsb.). Saat berbicara, sapukan pandangan Anda ke
    seluruh wajahnya lima detik, lalu ke matanya tiga detik, ke setiap
    bagian wajahnya tiga detik dengan interval 2 - 3 kali.
  • Jabat tangan. Bersiaplah untuk sewaktu-waktu
    berjabat tangan. Genggaman yang penuh, bertenaga, dan hangat, lebih
    impresif ketimbang genggaman lemah dan ogah-ogahan. Hal itu juga
    mencerminkan rasa percaya diri yang besar.
  • Ucapkan "Halo" dengan hangat. Tunjukkan antusiasme, tapi kontrollah suara, jangan terlalu keras.

Dengan saran demikian, semoga Anda akan mendapatkan kenalan baru sebanyak-banyaknya dalam pergaulan Anda.


Sumber :

http://intisari-online.com/




Pembicaraan
antara orang yang baru saja berkenalan akan tetap menarik, apabila
dilakukan dua arah. Jadi, tidak hanya membicarakan diri sendiri atau
mendominasi. Berikut ini tips bagaimana menjaga agar percakapan tetap
menarik,


  • Kontrol bahasa tubuh dan bahasa wajah Anda. Selama berbicara,
    tetaplah menjaga kontak wajah, tapi jangan terkesan "menguasai".
    Gerakan ekspresif boleh saja, tapi jangan eksesif (berlebihan).
  • Tidak menggosip. Begitu Anda memulai, siapa tahu dia kenal baik
    dengan si objek gosip. Anda juga akan terlihat kecil, tapi berbobot.
  • Kembangkan topik pembicaraan. Dari berbagai isu yang ada di koran
    maupun majalah, Anda akan mendapat bahan pembicaraan yang variatif.
    Topik yang Anda ketahui persis bisa dibicarakan lebih mendalam. Ingat,
    ini bukan diskusi. Hindari perbantahan atau adu argumen.
  • Miliki rasa humor. Setiap orang senang lelucon atau anekdot. Tapi
    hati-hati, walaupun humor tentang seksual dan etnis mungkin bisa
    meledakkan tawa dan senyum geli, lelucon yang Anda lemparkan
    mencerminkan citra keseluruhan diri Anda. Jangan rendahkan martabat
    Anda dengan lelucon murahan.
  • Tidak menginterupsi. Dari survei tentang hal apa yang melukai
    percakapan, maka 90% responden mengaku tak suka diinterupsi. Jika ingin
    menjadi teman bicara yang menyenangkan, beri kesempatan ia
    menyelesaikan apa yang ingin disampaikannya. Tahanlah keinginan Anda
    menyela.
  • Tunjukkan antusiasme. Jangan ragu-ragu mengekspresikan antusiasme,
    karena hal itu akan menunjukkan betapa Anda tertarik terhadap topik
    yang dia bicarakan. Gunakan perasaan saat bicara dan mendengarkan.
  • Luweskan sudut pandang. Bukalah diri terhadap pandangan orang
    lain. Anda boleh mengungkapkan pandangan Anda, tapi tanpa kesan
    bermusuhan, menyerang, ataupun membela diri.
Sumber :
http://intisari-online.com/


Dalam bekerja sehari-hari, ada sebagian orang yang lebih banyak menggunakan otak ketimbang ototnya. Orang-orang semacam itu tak punya pilihan, untuk selalu menjaga kesehatan organ tubuh vital satu-satunya itu. Syukur-syukur bukan cuma menjaga, tapi juga mengoptimalkannya.

"Kalau dia itu nasinya tolong yang banyak, Bu. Dia 'kan kuli pasar," ujar Yanto kepada ibu penjual nasi, sambil menunjuk Joko. Celetukan di sebuah warung nasi itu langsung menyegarkan suasana yang sangat panas. Joko, seorang designer creative sebuah media cetak, pun cuma bisa senyum-senyum saja. Sudah biasa baginya diejek seperti itu.

Diejek? Ya, tentu saja. Jelas-jelas ia bukan kuli pasar. Untunglah ia tidak marah, sebab memang sudah jadi kebiasaannya, makan siang dengan porsi berlebih.

Bagi Joko, baik kuli pasar - yang konotasinya cuma bekerja mengandalkan fisik - atau tukang kreatif seperti dia, tetap harus makan dalam jumlah yang cukup. Kalau asupan kurang, seorang kuli pasar tidak akan punya tenaga untuk mengangkut beban. Sementara Joko, otaknya yang tidak mau diajak kompromi.

Obrolan tadi memang mewakili pandangan banyak orang selama ini tentang dua jenis pekerjaan. Kerja otot dan kerja otak. Keduanya berbeda, bahkan bisa dibilang bertolak belakang. Coba renungkan, Anda termasuk yang mana?

Wendy, penulis blog yang sedang jauh dari rumah, menulis di halaman situs blognya, "Dari segi gengsi, kerja pake otak kedengarannya memang lebih keren karena (biasanya) identik dengan pakaian rapi, kubikel dengan komputer, parfum, AC, dan dasi. Sedangkan kerja otot identik dengan keringat, ban berjalan, mesin-mesin, dan rutinitas." Apa benar?

Agak sedikit berbeda, Nugroho, MM, ACS, CL, tokoh pendidikan muda yang visioner dan enerjetik mencoba membedah kerja otot versus kerja otak ini. Menurutnya, kerja otot dan kerja otak, berujung pada si Sukses dan si Gagal, si Bahagia dan si Menderita. Wah!

Penjelasannya begini. Bila seseorang menjalani hidupnya dengan lebih dominan mengandalkan ototnya, akan mendapatkan hasil yang berbeda dari orang yang lebih dominan dalam mengandalkan otaknya. Orang yang mengandalkan otot adalah tipe orang yang bekerja sendiri (one man show) sementara orang yang bekerja dengan otaknya akan bekerja dengan melibatkan orang lain seraya membangun kerjasasama tim. Istilahnya, (team work building).

Orang yang mengandalkan otot cenderung tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Sementara orang "berotak" lebih fleksibel dalam pengaturan waktu. Sebabnya, orang yang bekerja sendiri tidak berani atau bahkan mungkin tidak tahu bagaimana mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain. Sementara yang bekerja dalam tim cenderung saling membantu dalam menjalankan tugas.

Namun tulisan ini tidak akan berlarut-larut dalam polemik perbedaan kerja otot dan kerja otak. Mari mengupas bagaimana jika kita termasuk orang yang mengandalkan kerja otak. Apa yang mesti kita persiapkan agar otak senantiasa siap diajak bekerja. Kalau perlu sampai lembur.

Mirip komputer

Otak, sampai sekarang masih menyimpan banyak misteri. Sigmun Freud, si pakar psikoanalisa itu, berteori, otak manusia adalah segala-galanya. Sedangkan dalam buku Use Your Head, Tony Buzan menyebutkan, otak ibarat raksasa tidur. Sebabnya, banyak hal yang belum diungkap secara keilmuan.
Sejauh ini sering kita mendengar, otak terbagi menjadi dua bagian penting, yakni otak kanan dan otak kiri. "Otak kiri untuk hal-hal yang rasional, nyata, berpikir linier. Sedangkan otak kanan kaitannya dengan imajinasi, musik, kesenian, merasa bahagia, konstruksional," tutur dr. Samino, Sp.S. (K), spesialis saraf dari RS Islam Cempaka Putih.

Kenyataannya, selama ini kebanyakan hanya otak kiri yang diberdayakan. Tapi sejak munculnya istilah kecerdasan emosi, otak kanan pun mulai banyak dibahas. Trik dan metode mengoptimalkan otak kanan mulai bermunculan.

Kedua "otak-otak" itu memang harus dimanfaatkan secara seimbang. Pasalnya, memori yang dibangun otak kiri akan menjadi memori jangka panjang yang disimpan otak kanan. Jadi, antara otak kiri dan kanan, punya semacam jembatan penghubung.

Jika dianalogikan, otak mirip komputer. Mungkin inilah sebabnya, di Tiongkok, komputer diistilahkan sebagai jun nye, yang arti langsungnya "otak listrik" atau otak yang bekerja pakai listrik. Seluruh aktivitas tubuh merupakan refleksi dari program-program yang ada di dalam otak.

Chip-nya otak adalah neuron atau sel saraf. Neuron adalah sel yang mempunyai juluran-juluran yang menghantar rangsangan. Juluran yang menghantar rangsang ke badan sel yang mengandung inti di dalamnya disebut dendrit. Sedangkan juluran yang menghantar rangsang keluar dari badan sel disebut akson.

Sel-sel saraf yang berhubungan satu sama lain membentuk suatu jaring perkawatan. Hubungan antara satu sel saraf dengan sel saraf lain disebut sinapsis. Makin rimbun hubungan antarsel saraf, makin tinggi kecerdasannya. Jadi, tingkat kecerdasan tidak berkaitan dengan besar atau berat otak, yang sekitar 1,5 kg itu.

Makin banyak dan baik asupan program yang terjadi pada proses belajar, makin banyak percabangan juluran sel saraf yang terjadi. Ini berarti daya mengingat meningkat. Jadi, ingatan terwujud sebagai cabang-cabang juluran sel sarah dengan sinapsis-sinapsisnya.

Tapi masalahnya, jumlah sel saraf tidak dapat bertambah. Malah bisa menyusut seiring tambah usia. Kematian sel otak bahkan sudah dimulai semenjak kelahiran.

Karena sel-sel otak tidak diperbarui sejak kita lahir, jumlah totalnya akan mulai berkurang. Percabangannya memang dapat terbentuk terus hingga usia lanjut. Hanya saja, sama seperti alat yang jika jarang digunakan bakal timbul masalah, begitu pula otak. Kalau jarang digunakan, otak akan melisut. Percabangan juluran sel saraf juga rusak dan menggersang.

"Jadi, jika mau bugar otaknya, pakai terus!" saran Samino, menyimpulkan segala kerumitan tentang persarafan di dalam kepala ini.

Use it or loose it

Agar dapat sepenuhnya menggunakan potensi otak, kita harus belajar memandangnya sebagai bagian dari tubuh kita. Sama seperti otot dan sendi yang menjadi kaku bila tidak digunakan, otak pun akan kehilangan kemampuannya bila tidak dimanfaatkan. Seperti halnya peregangan dan olahraga untuk memelihara kondisi fisik, kita juga perlu meregangkan dan melatih otak untuk memelihara dan mengembangkan "kondisi otak" kita.

Ada banyak cara untuk merawat otak. "Yang penting memperhatikan gaya hidup saja. Gaya hidup ini meliputi pola makan, pola latihan fisik, dan pola tidur," tegas Samino.

Memperhatikan pola makan, termasuk di dalamnya menjauhi kebiasaan merokok dan makan makanan yang mengarah terjadinya sklerosis pembuluh darah. Pola pikir juga penting diperhatikan, sebab ketika otak bekerja ia menghasilkan zat-zat sampah yang akan mengganggu metabolismenya. "Jadi perlu di-recovery. Kalau tidak otak akan kelelahan," tambah Samino.

Untuk menjaga agar otak tidak lelah, maka tubuh perlu tidur rata-rata enam jam sehari. Namun, meski tubuh tidur, otak sebenarnya tidak sepenuhnya istirahat. "Ia tetap bekerja meski dalam kondisi basal, yakni kerja minimal untuk memberikan pengaturan bagi sistem tubuh," kata Samino.

Mengenai lamanya tidur, Samino menegaskan, "Tidak tergantung umur. Tidur yang bagus ya segitu. Memang, pada orang tua tidurnya kurang. Ada yang cuma empat jam atau bahkan dua jam. Tapi itu 'kan karena ada masalah. Sel-sel otaknya banyak yang mati, jadi mengganggu pola tidurnya. Umur yang bertambah memang membuat tubuh akan melisut. Akan terjadi kemunduran baik secara fisik maupun faal. Rambut memutih, tulang mengeropos, dan begitu juga otaknya."

Karena otak berhubungan dengan setiap bagian lain tubuh, olahraga fisik juga menjadi bagian tidak terpisahkan dalam memelihara otak agar selalu dalam kondisi puncak. Aktivitas intelektual macam berdebat dan memainkan permainan strategi seperti catur dan "Go" merupakan olahraga otak yang sangat baik.
Belajar juga salah satu cara untuk memelihara - bahkan dapat meningkatkan kemampuan otak. Jangan puas dengan karir yang dicapai hari ini. Jika memungkinkan, Samino menyarankan agar terus ditingkatkan. Prinsipnya no time for loose sebab sel-sel otak itu hanya mengenal hukum use it or loose it.

Optimalkan bersama ALISSA

Untuk mengoptimalkan otak, dalam bukunya Manajemen Kecerdasan, Taufiq Pasiak - dosen Anatomi Sistem Saraf Pusat Universitas Sam Ratulangi, Manado - menjabarkan enam cara yang untuk memudahkan disingkat menjadi ALISSA (Amankan, Latihan fisik, Informasi dan gizi, Santai, Sosialisasi, Aku mencintai).

Apa maksud itu semua, mari kita kupas lebih dalam.

Amankan, maksudnya selalu melindungi otak. Meski dijaga berlapis-lapis struktur - termasuk adanya cairan yang berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) - otak sangat rentan terhadap penyakit dan trauma fisik. Waspadai penyakit ringan - macam flu - yang dapat berpotensi merusak otak kalau tidak diantisipasi dengan baik. Trauma lahir juga dapat merusak otak dan menghambat perkembangan, termasuk perawatan bayi yang tidak semestinya.

Latihan fisik penting, tapi bukan satu-satunya cara membuat otak menjadi kuat sebagaimana didengungkan oleh mereka yang tidak melatih otak. Latihan fisik hanya melatih sedikit daerah sensorik otak dan semua daerah motorik.

Latihan fisik paling baik jika melibatkan dua bagian tubuh, kiri dan kanan, secara seimbang, terutama jika jari-jemari dilibatkan secara intens. Dari semua bagian motorik tubuh, jari-jemari dan lidah memiliki daerah pengaturan yang paling besar di otak.

Segala informasi, terutama yang baru dan unik, serta makanan bergizi punya peran penting pada pembentukan dan pengayaan sinaptik pada sel-sel saraf. Zat gizi seperti omega-3 dan omega-6 dapat menguatkan fungsi sel saraf sebagai penguat (booster) bagi dirinya sendiri. Yang jauh lebih penting, memberikan ASI kepada bayi, sebab kandungan DHA-nya lebih baik dan lebih banyak dibanding susu formula.

Otak memang tak kenal istirahat. Namun konsolidasi memori antar-sel saraf akan optimal saat otot-otot tubuh istirahat tidur. Saat itulah otak sedang santai. Ada banyak cara untuk menyantaikan otak, seperti mendengar musik, menulis puisi, mencermati lukisan naturalisme, atau yang lebih teknis: meditasi. Otak yang santai dapat menjadi alat untuk self therapy.

Sosialisasi membuat semua organ perifer otak, seperti indera-indera, selalu terangsang. Bagian sentral, terutama kulit otak dan sistem limbik, dapat bekerja secara baik. Dengan mengobrol, rasa dan rasio dapat terangsang. Sosialisasi akan melatih kekuatan emosi (EQ), kemantapan spiritual (SQ), dan kecerdasan rasio (IQ).

Mencintai sangat baik bagi otak. Bawaan manusia antara lain need of affection, kebutuhan akan kasih, sayang, dan cinta, dalam kehidupan sehari-harinya. Cinta yang paling baik adalah memberi daripada menerima. Banyak penelitian otak yang membuktikan bahwa pengeluaran hormon stres dapat dihambat dengan perasaan yang penuh cinta dan kasih sayang. Tiga sifat yang sangat ampuh merusak otak adalah iri, serakah, dan sombong.

Nah, dengan ALISSA ini, semoga mereka yang melakukan kerja otak bisa lebih mengoptimalkan otaknya.

Sumber :
http://intisari-online.com/

Perubahan gaya hidup yang dialami atau dilakukan banyak orang belakangan ini membawa pula perubahan pada pola makan. Banyak di antaranya yang memilih, bahkan menyukai junk food. Akibatnya, mereka mengalami defisiensi zat gizi atau non-gizi tertentu, termasuk serat. Para industriawan pun menangkap fenomena ini sebagai peluang sehingga lahirlah berbagai suplemen makanan yang kandungan utamanya serat.

Sebenarnya, tidak ada yang salah pada suplemen serat. Yang salah adalah apabila makanan tambahan itu dianggap bisa sepenuhnya menggantikan serat dari makanan sehari-hari. Mengapa?

Makanan umumnya terdiri atas zat gizi (nutrien) dan zat-zat lain (non-nutrien). Serat termasuk dalam komponen non-nutrien. Kandungan serat yang tinggi dalam makanan sehari-hari, menurut berbagai penelitian, memberikan banyak manfaat, terutama dalam menurunkan risiko terhadap penyakitjantung koroner, diabetes melitus (DM), obesitas, dan keganaasan usus besar (kanker kolon).

Serat makanan (dietary fiber) adalah unsur dari dinding sel tanaman dalam makanan yang tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim saluran pencernaan. Berdasarkan sifat kimianya, serat makanan dibedakan atas serat larut dan serat tidak larut. Termasuk dalam kelompok serat tidak larut adalah lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Wortel, gandum, dan buah yang bijinya dapat dimakan seperti arbei, merupakan sumber lignin. Bahan makanan berselulosa relatif tinggi, meliputi tepung gandum, kacang polong, root vegetable, apel, dan buah-buahan berbiji. Sedangka bahan makanan yang tinggi kadar hemiselulosanya antara lain bekatul, serealia, dan oatmeals.

Di dalam kolon, selulosa, hemiselulosa, dan lignin menyerap air sehingga volume tinja menjadi lebih besar. Mereka juga mempersingkat waktu antara masuknyamakanan dan dikeluarkannya sebagai tinja. Hasilnya, kontak antara zat-zat iritatif dengan mukosa kolorektal (usus besar) menjadi singkat sehingga mencegah timbulnya penyakit di kolon dan rektum. Hal itu dapat menerangkan kegunaan serat makanan dalam mencegah timbulnya karsinoma atau keganasan kolorektal.

Apa saja yang termasuk dalam kelompok serat larut (soluble fiber)? Jawabannya, pektin, psillium, gum, musilago, dan fs-glukan.

Hasil penelitian memperlihatkan, diet tinggi serat larut dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Selain itu, serat larut juga dapat memperbaiki metabolisme karbohidrat. Penelitian juga memperlihatkan, penambahan serat larut pada diet penderita DM dapat menurunkan kadar gula darah.

Bahan makanan sumber serat larut antara lain apel, jeruk (citrus fruits), bekatul (oatbran), gandum (oatmeal), rumput laut, serta kacang polong-polongan, macam kacang kedelai, kacang merah, kacang kapri, kacang hijau, dan kacang tolo.

Rekomendasi asupan serat makanan yang dianjurkan adalah 20 - 30 g per hari untuk orang dewasa, sekitar 6 g berasal dari serat larut.

Bila membiasakan diri dengan pola makan beraneka ragam, kebutuhan serat akan dapat terpenuhi. Beras atau penukarnya, kacang polong-polongan, buah, dan sayur merupakan sumber serat. Ada keuntungan jika mengonsumsi makanan alami sumber serat. Buah dan sayur misalnya, selain sumber serat juga merupakan sumber beta karoten dan vitamin C yang merupakan antioksidan. Antioksidan sendiri menurunkan risiko terhadap berbagai penyakit degeneratif.

Tempe umpamanya. Selain sebagai sumber serat larut dan tidak larut (100 g mengandung 7,2 g serat) juga merupaka sumber asam lemak tidak jenuh tunggal dan ganda yang dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Selain itu, tempe juga mengandung isoflavon yang akhir-akhir ini dikaitkan dengan fungsinya menurunkan risiko terjadinya osteoporosis (tulang keropos).

Jadi, sebaiknya tetaplah bertahan pada diet sehat dan seimbang yang kaya serat dari buah, sayur, dan sumber serat lainnya. Dengan diet itu, banyak penyakit bisa dicegah. Suplemen serat diperlukan hanya bila kita kekurangan serat dari makanan sehari-hari.

Sumber :
http://intisari-online.com/


Bahagia tidak selalu karena memperoleh sesuatu. Entah barang yang sudah lama kita idam-idamkan atau keinginan yang terpendam terpenuhi. Bahagia bisa juga karena dari memberi. Seperti cerita seorang teman yang bahagia meski ia kehilangan sesuatu. Saat meng-gowes ia berpapasan dengan seorang pemuda biasa yang bersepeda juga. Sepeda pemuda itu begitu biasa, teramat biasa dibandingkan sepeda teman saya tadi. Awalnya hanya berbasa-basi sampai akhirnya pemuda tadi bertanya di mana bisa membeli lampu kelap-kelip yang teramat bagus di matanya itu.

Teman saya sungkan menjawab sebab pasti pemuda tadi akan terkejut. Dengan sedikit berbohong bahwa ia masih memiliki satu lampu seperti itu, ia pun memberikan lampu tadi ke pemuda tadi. Ia merasa senang melihat pemuda tadi mukanya cerah. Teman saya tadi bilang bahwa bisa jadi dulu mukanya begitu sewaktu ibunya membelikan mainan yang ia idam-idamkan. Dengan memberi, teman saya tadi merasa bahagia.

Saya pun merasakan hal yang sama. Hanya saja kali ini saya memberi sesuatu barang yang tidak saya beli. Saya dikasih dan barang itu saya kasih ke teman. Saya sebenarnya berharap sekali memperoleh barang itu, tapi melihat teman saya berkeinginan untuk menjajal bersepeda, ya apa salahnya saya ikut mendukungnya.

Dalam sebuah seminar motivasi, seorang pembicara mengungkapkan kekuatan memberi. Orang yang memberi akan memperoleh imbalan yang berlipat. Entahlah, apakah teman saya tadi berharap imbalan. Saya sendiri yakin ia tidak pernah berharap imbalan. Ia pernah berujar bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Dan kita bukanlah gudang yang mampu menampung semua barang "keinginan". Ia mengibaratkan dirinya sebagai saluran. Dan kebahagiaan saluran adalah jika apa yang lewat dari dirinya mengalir dengan lancar dan sampai di tujuan.

Banyak cerita soal memberi ini yang pada akhirnya membuktikan adanya kekuatan memberi, The Power of Giving. Kalau dikaitkan dengan hukum alam, ya "Giving and Receiving". Karena memberi di satu pihak berarti menerima di pihak lain. Dua hal itu adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Teman saya tadi bahagia karena telah memberi kebahagiaan seorang pemuda (yang menerima pemberian lampu). Bisa saja pemuda tadi sudah lama menginginkan lampu kelap-kelip di belakang demi keselamatannya. Kekuatan memberi (dan menerima) ini demikian dahsyat karena merupakan esensi dari alam semesta itu sendiri. Tidak berlebihan jika Deepak Chopra dalam "7 Spiritual Law of Success" mencantumkan "Law of Giving" sebagai hukum kedua untuk sukses. Alam semesta berjalan menurut sirkulasi memberi dan menerima.

Dalam seluruh fenomena alam, berjalan hukum memberi dan menerima. Manusia menghirup oksigen, dan menghembuskan karbon-dioksida, sementara tanaman menggunakan karbon-dioksida dalam proses fotosintesa dan membebaskan oksigen. Proses memberi dan menerima, membuat segala sesuatu di alam semesta ini berjalan, mengalir. Orang-orang zaman dahulu rupanya sangat memahami hal ini. Misalnya uang, alat tukar, dalam bahasa Inggris disebut currency, yang akar katanya adalah bahasa Latin currere yang artinya mengalir.

Sumber :
http://intisari-online.com/
Tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi, mungkin bisa disebut sebagai sisi kebalikan dari Jakarta yang megah dan gemerlap. Setiap hari ribuan ton sampah dari Jakarta dibuang ke tempat ini. Tak jauh dari gunungan sampah itu, hidup ratusan keluarga pemulung di bedeng-bedeng gedek yang sempit dan bau. Jika musim hujan tiba, air yang membawa sampah, lumpur, dan belatung masuk ke dalam rumah mereka.

“Pertama kali ke sini, saya sampai mual-mual,” Wulan Sari, sarjana pertanian Universitas Brawijaya, Malang, menceritakan pengalaman pertama berkunjung ke Bantar Gebang tiga tahun lalu. Yang membuatnya mual bukan hanya bau busuk sampah, tapi juga pemandangan lalat hijau gemuk-gemuk yang seolah hidup berdampingan dengan manusia. Sangat kontras dengan lingkungan di perumahan elite Kemang Pratama, Bekasi, yang baru saja ia tempati bersama keluarganya. Di tumpukan sampah itu ia melihat anak-anak kecil keleleran, mengorek-ngorek sampah bersama orangtua mereka pada jam sekolah.

Melihat kondisi anak-anak itu seketika membuat mantan wakil kepala SD ini bertekad untuk membuat sekolah gratis bagi anak-anak pemulung itu. “Mereka yang tidak menyayangi sesama tidak patut disayangi,” demikian ucapan Nabi Muhammad yang selalu Sari ingat. Dengan menyisihkan penghasilan keluarganya, ia meminjam sebuah musala kardus di Desa Sumur Batu sebagai tempat menyelenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) gratis. Musala yang berukuran sekitar 4 x 4 meter itu berada di tengah rumah-rumah bedeng para pemulung. Karena letaknya tak jauh dari gunungan sampah, bau sampah pun sampai ke situ. Pada musim hujan, air yang membawa sampah, lumpur, dan belatung pun masuk ke dalam musala.

Berkali-kali ia merekrut guru bantu, berkali-kali itu pula satu demi satu mereka mengundurukan diri karena tak tahan dengan bau sampah, serta jijik dengan belatung dan lalat hijau. Akhirnya Sari merekrut warga setempat yang sudah terbiasa dengan bau sampah untuk menjadi guru. Setelah setahun menempati musala kardus, PAUD itu kemudian pindah ke rumah sewa tak jauh dari tempat semula. Meski saat hujan masih bocor, tempat baru yang diberi nama Kelompok Belajar Al-falah ini cukup lapang untuk menampung 60-an anak.

Semuanya gratis. Biaya operasional sekolah ditanggung semuanya oleh Sari. Tiap minggu, anak-anak yang kebanyakan kurang gizi itu mendapat susu dan vitamin. Di tempat baru inilah anak-anak “terbuang” itu belajar. Mereka ini adalah anak-anak yang tidak mungkin bersekolah di TK atau SD “biasa” karena pola tinggal yang tidak menetap.

Keluarga pemulung itu sebagian besar berasal adalah pendatang jauh dari daerah-daerah minus. Jika di kampungnya sedang musim panen, mereka biasanya pulang kampung selama beberapa bulan. Begitu musim paceklik tiba, mereka kembali ke Bantar Gebang. Pola tinggal tidak menetap ini membuat anak-anak pemulung tidak mungkin mengikuti kegiatan belajar yang teratur. Di Al-falah, kondisi itu tidak menjadi hambatan. Mereka biasa tiba-tiba membolos selama dua bulan lalu masuk lagi begitu keluarga mereka kembali Bantar Gebang. “Tidak apa-apa, yang penting tidak ada yang putus sekolah,” kata Sari.

Bukan hanya pola masuk mereka yang tidak lazim, perilaku mereka sebagai murid pun di luar kewajaran. Kata Sari, anak-anak pemulung ini pada umumnya lebih tidak tertib daripada anak-anak TK atau SD kebanyakan. “Mengajari mereka untuk buang sampah di tempatnya saja sulitnya bukan main,” ujar ibu dua anak ini. Tak jarang, buku, majalah, pensil, penghapus, dan alat-alat belajar lain hilang dibawa pulang begitu saja oleh anak-anak ini. Mungkin karena mereka sudah terbiasa memulung dan membawa pulang barang apa saja yang mereka temukan di gunungan sampah.

Meja lipat, lemari, dan semua perabotan lainnya juga cepat sekali rusak. Perilaku mereka pun cenderung kasar dan kurang terdidik. “Salah seorang guru pernah dicakar murid sampai berdarah,” ucap Sari yang mengaku tiap hari harus mengelus dada mengasuh mereka. Tapi tiap kali ia mengelus dada, obatnya adalah ucapan Nabi Muhammad, “Mereka yang tidak menyayangi sesama tidak patut disayangi.” Anak-anak itu harus diterima apa adanya karena mereka berperilaku seperti itu memang akibat kemiskinan yang lengkap. Miskin materi, juga miskin pendidikan.

Tak jarang, anak-anak itu bersekolah dalam keadaan luka akibat kena beling, tertusuk jarum atau paku saat memulung. Bukan hal yang aneh kalau murid masuk sekolah dengan kaki penuh borok yang dikerubungi lalat. Saat awal PAUD buka, empat orang murid meninggal dunia karena tetanus dan infeksi akibat tertusuk benda tajam saat memulung. Beberapa di antara mereka menderita malnutrisi (gizi buruk). Karena kebanyakan kurang gizi, tak heran mereka pun tidak begitu cepat menangkap pelajaran. Jika mendapat pelajaran yang sedikit sulit, mereka mengeluh pusing.

Dari para murid ini, Sari biasa mendapatkan cerita yang membuatnya sampai harus menahan air matanya tumpah. Salah seorang murid dengan santai bercerita bahwa ia baru saja sarapan bakso. Awalnya Sari membayangkan betapa enaknya pagi-pagi makan bakso hangat. Tapi bayangan kelezatan bakso seketika berubah menjadi rasa mual ketika murid itu meneruskan ceritanya bahwa yang ia makan itu adalah bungkusan bakso yang ia temukan di “bulog”—sebutan untuk gunungan sampah Bantar Gebang. Di lain waktu ia mendengar cerita murid lain yang makan ayam goreng, yang juga ditemukan di “bulog”.

Takut Ujian
Karena para muridnya “tidak biasa”, pola pendidikan di sini pun tidak biasa. Sari tetap menggunakan acuan kurikulum Departemen Pendidikan Nasional. Tapi metodenya ia sesuaikan dengan kodisi anak-anak itu. Ujian hanya dilakukan di akhir semester. Terlalu sering ujian membuat anak-anak ini malah takut masuk sekolah. Bahkan, jika takut dengan pekerjaan rumah (PR), mereka pun dengan seenaknya bolos sekolah.

Karena jumlah murid terus bertambah, tempat sewa ini pun tidak lagi bisa menampung mereka. Sejak Mei 2009, akhirnya Sari harus memindahkan sekolah ke tempat sewa yang baru, yang bisa menampung 150-an anak secara bergantian. Kini dengan tenaga 10 orang guru, tiga orang di antaranya sarjana, Kelompk Belajar Al-falah menyelenggarakan pendidikan mulai dari PAUD, kejar paket A, B, dan C (berturut-turut setara SD, SMP, dan SMA). Cukup spektakuler untuk ukuran sebuah lembaga pendidikan yang dibiayai perorangan.

Hingga sekarang semua biaya operasional, termasuk gaji guru, masih ditanggung sendiri oleh Sari. Hanya kadang-kadang ia menerima sumbangan dari donatur tidak tetap. Awalnya, ia juga menanggung biaya ujian kesetaraan sebesar Rp 500.000,- per orang. Namun, karena keterbatasan dana, mulai tahun ajaran 2009 ini sekolah mewajibkan murid menabung Rp 3.000,- per bulan untuk biaya ujian kesetaraan nanti.

Agar anak-anak itu terbebas dari kegiatan memulung, Sari membuat mereka sesibuk mungkin di sekolah dengan berbagai kegiatan. Pagi hari mereka bersekolah, siang harinya mereka mengaji. Dengan cara itu, mereka akan terbebas dari kewajiban membantu orangtua mereka memulung sampah.

Kini, di tahun ketiga usia TPA Al-falah, para murid itu sudah menjadi lebih tertib. Mereka sudah bisa membuang sampah di tempatnya, bisa mengaji, bisa mengikuti kegiatan sekolah seperti kebanyakan anak-anak TK dan SD.

Sumber :
http://intisari-online.com/


Sebuah penelitian terhadap lebih dari 160 orang dan binatang menemukan hasil bahwa makhluk hidup yang berbahagia cenderung hidup lebih lama dan memiliki kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak bahagia.

Penelitian yang dilansir jurnal Applied Psychology: Health and Well-Being itu merupakan penelitian yang paling komprehensif sejauh ini yang meneliti hubungan antara kebahagiaan dan kesehatan. Penelitian ini dipimpin oleh guru besar emeritus Ed Dienner dari Universitas Illinois, yang juga merupakan ilmuwan senior Organisasi Gallup di Princeton, New Jersey, ini menganalisis dalam jangka panjang subjek manusia, manusia percobaan, dan binatang percobaan, dan studi yang mengevaluasi status kesehatan orang yang diberi tekanan oleh kejadian alam.

"Kami memeriksa delapan jenis penelitian yang berbeda. Dan kesimpulan umum dari setiap penelitian adalah perasaan positif dalam kehidupan seseorang, tak stres atau depresi, memberikan sumbangsih baik bagi umur panjang dan kesehatan yang lebih baik," kata Dienner seperti dikutip sciencedaily.com..

Penelitian yang melibatkan hampir 5.000 mahasiswa selama lebih dari 40 tahun, misalnya, menemukan bahwa mereka yang terlalu pesimis saat mahasiswa cenderung meninggal lebih cepat dibandingkan kawan sebayanya. Penelitian dalam jangka yang lebih lama dengan mengamati 18 biarawati Katolik dari awal remaja mereka sampai usia tua ditemukan fakta bahwa mereka yang menulis "catatan harian" dalam bahasa positif di umur 20-an tahun memiliki umur yang lebih panjang dibandingkan dengan mereka yang waktu mudanya menulis "catatan hariannya" dalam bahasa negatif.

Memang, ada beberapa perkecualian. Akan tetapi, dari hampir semua penelitian jangka panjang, peneliti menemukan fakta bahwa kecemasan, depresi, kurang bahagia di setiap aktivitas harian, dan pesimis berkaitan langsung dengan mudahnya terjangkit penyakit dan umur yang lebih pendek.

Penelitian terhadap hewan juga menunjukan hasil yang sama. Percobaan dilakukan menggunakan binatang yang menerima perawatan sama tapi berbeda tingkat stresnya. Hasilnya, binatang yang stres lebih mudah terkena serangan jantung, memiliki sistem kekebalan yang lebih rendah, dan cenderung mati muda dibandingkan dengan mereka yang hidup dalam kondisi sedikit ketegangan.

Percobaan dalam skala laboratorium pada manusia menemukan bahwa sikap jiwa yang positif mengurangi hormon yang berhubungan dengan stres, meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, dan mempercepat jantung ke kondisi normal setelah bekerja keras. Dalam penelitian lain, perkawinan yang penuh konflik dan percekcokan erat hubungannya dengan lambatnya penyembuhan luka dan respon kekebalan yang lebih buruk.

"Saya terkejut dan heran melihat kekonsistenan data yang ada," ujar Diener. Semua penelitian yang berbeda itu mengarah pada satu kesimpulan: bahwa kesehatan dan kemudian umur panjang dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan kita!

Nah, jika kita sudah mendengar empat saran untuk sehat (hindari obesitas, tidak merokok, makan makanan yang seimbang, dan berolahraga), saatnya menambahkan dengan berbahagialah dan hindari kemarahan kronis dan depresi.

Sumber :
http://intisari-online.com/
Saya pernah bertugas meliput di Desa Kepakisan, sebuah desa di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Desa ini awalnya sangat miskin, tetapi mulai tahun 1990-an berubah menjadi desa sejahtera karena hampir semua warga menunaikan zakat.

Kepala desanya cukup kreatif memelopori penanaman sayuran yang punya nilai ekonomi tinggi. Pada saat yang sama, ia juga menggalakkan zakat penghasilan lewat Badan Amil Zakat, Infak, dan Sodaqoh (BAZIS). Yang punya penghasilan besar diimbau membayar zakat, sementara yang penghasilannya kecil membayar infak atau sodaqoh.

Hasilnya ternyata luar biasa. Tiap Jumat warga berbondong-bondong ke BAZIS. Dalam waktu lima tahun, BAZIS berhasil mengumpulkan dana sangat banyak yang digunakan untuk menyantuni fakir miskin, anak yatim piatu, orang jompo, orang sakit, memperbaiki sarana ibadah, membangun infrastruktur desa, bahkan memberikan beasiswa dan honor guru wiyata bakti di TK dan SD.

Setelah mewawancari kepala desa, saya melihat langsung warga yang antre di BAZIS sambil membawa uang yang siap disetorkan. Yang membuat saya heran, di antara para pengantre itu terdapat beberapa orang tua dengan wajah keriput dan baju lusuh, yang menandakan mereka berasal dari keluarga miskin. Saya pun mewawancarai salah seorang ibu dari mereka. Ternyata ia adalah seorang janda, rumahnya sangat sederhana, berlantai
tanah.

Ketika saya tanya kenapa ia membayar zakat padahal ia tergolong kurang mampu, si ibu ini menjawab dengan lugu sekaligus mengharukan, “Untuk bisa memberi, tidak harus menunggu kaya. Tuhan sudah memberi kita banyak nikmat. Kalau Tuhan saja tidak pernah
hitung-hitungan, mengapa kita harus hitung-hitungan?”

Saya malu sekali di dalam hati mendengar jawaban itu. Saya berpendidikan dan berpenghasilan jauh lebih tinggi, tetapi tidak pernah punya pikiran seperti si ibu janda tua miskin itu. Sejak itu saya memutuskan untuk melaksanakan zakat setiap menerima rezeki.

Sumber :
http://intisari-online.com/